Apa Yang Sebaiknya Dilakukan Jika Tak Kunjung Mendapatkan Pekerjaan?

Photo by Hunters Race on Unsplash

Jawaban simpel tak berempati yang mungkin semua orang (juga saya) akan jawab: kirim lamaran kerja yang banyak.

Mengapa tak berempati?

Sebab, saya merasakan betul bahwa tak mendapat pekerjaan bukan sepenuhnya kesalahan pelamar kerja, tetapi juga para perusahaan itu sendiri.

Bicara soal mencari pekerjaan, tak jauh berbeda dengan menjalankan bisnis.

Perbedaannya ada di apa yang dijual dan siapa pembelinya. Ketika mencari pekerjaan, yang dijual adalah keahlian kita kepada para perusahaan.

Dengan kata lain, mencari pekerjaan adalah proses mencari perusahaan yang berminat menggunakan keahlian kita. Yang berarti juga ada proses negosiasi harga di dalamnya.

Berdasarkan pengalamanku merekrut tim, alasan utama tak terjadinya ‘deal‘ antara perusahaan dengan kandidat karyawan adalah harga. Maksudnya, gaji yang diharapkan kandidat melebihi bujet perusahaan.

Meskipun uang seharusnya bukan jadi alasan utama kandidat dalam bekerja, di sisi lain, perusahaan pun mesti menghargai keahlian yang dimiliki kandidat.

Itulah mengapa ‘mendapat gaji besar’ hanyalah soal negosiasi, buat saya.

Setelah kita mengupas proses mencari pekerjaan, selanjutnya adalah merinci apa saja variabel yang memengaruhinya.

Jika menganalogikan mencari pekerjaan dengan menjual barang/jasa, maka the legendary marketing funnel theory mungkin bisa jadi landasannya.

Dalam dunia marketing, teori AIDA menggambarkan tahapan berpikir konsumen dalam membeli barang.

Dalam konteks mencari pekerjaan:

Awareness – perusahaan mulai mengetahui keahlian kita.

Interest – perusahan paham manfaat dari keahlian kita pada bisnis.

Desire – perusahaan berencana memakai keahlian kita di bisnisnya.

Action – perusahaan mulai merekrut atau menawari kita pekerjaan.

Dengan pendekatan teori tersebut, maka kita lebih mudah menyimpulkan apa yang dapat dilakukan untuk mendapat pekerjaan:

Memperbesar awareness perusahaan terhadap keahlian kita

Konsepnya, awareness serupa dengan istilah yang belakangan mencuat di kalangan netizen, yaitu exposure. Memperbesar exposure kita terhadap perusahaan bisa dilakukan dengan metode:

  • Membuat publikasi; baik itu menulis di Quora, membuat video di Youtube atau apapun yang meningkatkan exposure keahlian kita kepada perusahaan.
  • Menambah jaringan pertemanan: buat koneksi baru di Linkedin, Facebook, Twitter dan di dunia nyata. Gabung di komunitas ilmu terkait dan lain-lain.

Memberi contoh aplikasi keahlian kita pada bisnis

Langkah ini berguna untuk memudahkan perusahaan melihat manfaat langsung dari bidang keahlian kita. Contoh konkret langkah ini:

  • Membuat review dan usulan solusi pada produk atau layanan perusahaan yang kita impikan bekerja di sana.
  • Membuat prototipe ide produk atau sistem yang menambah nilai bisnis perusahaan.

Terus menerus memperbaiki curriculum vitae kita

Harus diakui, pekerjaan tim HRD banyak, sehingga kita perlu maklum jika banyak kandidat terlewat hanya karena tampilan surat lamaran kerjanya membingungkan atau membosankan.

Sepertinya tidak ada aturan baku atau rumus tentang bagaimana membuat lamaran kerja yang tepat untuk semua perusahaan. Tiap perusahaan bisa jadi butuh format lamaran yang berbeda.

Bahkan, bukan tidak mungkin setiap keahlian punya standar berbeda-beda. Misalnya: surat lamaran desainer grafis bisa jadi berbeda dengan akuntan.

Pada akhirnya, semua langkah dan metode dalam mendapatkan pekerjaan akan bergantung pada kualitas diri kita, sehingga pertanyaan terakhir yang perlu kita jawab sendiri adalah:

Pantaskah kita menempati posisi tersebut?

Tulisan oleh Amal Agung Cahyadi. Mau tulisanmu tampil di sini? Kirim ke kampusunj@gmail.com

Info penting lainnya:


Apa komentarmu?