Esai: Seperti Dikebiri!

Pendidikan adalah salah satu syarat utama kemajuan suatu negara dan masyarakat. Kita pun juga tahu bahwa, salah satu komponen terpenting dalam pendidikan adalah guru, Indonesia sangat membutuhkan tenaga pengajar yang berkualitas, baik secara pendidikan atau kualitas pemikiran dan intelektual seorang guru.

Namun kita bisa melihat bahwa pendidikan di Indonesia cukup miris, dikarenakan keinginan menggebu kita untuk menggenjot pendidikan agar lebih berkualitas, yang di sisi lain, kita hanya menganggap bahwa profesi guru adalah profesi yang remeh-temeh, iya, akui saja. Alasan terkuat adalah gajinya yang bisa dikatakan sangat kecil, atau bisa dibilang ‘seperti dikebiri’. Bisa dibilang, di zaman sekarang, gaji guru memang sudah lebih ‘dihargai’ dibandingkan zaman dahulu. Namun, bandingkan dengan tugas dan tanggung jawab mereka, termasuk ekspektasi kita pada mereka; mendidik dan bukan sekedar mengajar, menjadi teladan, dan mengembangkan potensi siswa. Bayangkan saja, gaji sekecil itu yang bahkan belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya 100%, masih diberi tanggung jawab bertumpuk, apalagi yang paling miris adalah guru honorer yang sampai-sampai harus kerja sampingan.

Maka jangan disalahkan, jika banyak masyarakat yang mungkin memandang rendah profesi seorang guru, bahkan jika ada anak pintar atau anak orang kaya, jangan disuruh jadi guru lah, disuruh saja belajar tinggi, hingga bisa diterima di perusahaan ternama. Siklus itu terus dipelihara, hingga pengangguran menumpuk di perkotaan, hanya karena ingin kerja di perusahaan ternama. 

Kita bisa melihat realita ini, hingga sekarang, banyak pula guru yang tak mau mendidik dan hanya mau mengajar, sering membolos yang dilandasi dengan alasan ‘ada dinas atau keperluan’ (bukan muridnya lo ya yang bolos, tapi gurunya), dan memberi tugas ‘kosong’ kepada siswa, yang jauh dari kata mengembangkan potensi emas generasi muda Indonesia. Salah gurunya? Bukan juga, mungkin kita sudah paham tentang hukum korelasi positif antara ‘banyaknya penghasilan dan keseriusan dalam bekerja’. Sudahlah, akui saja.

Ini sangat ironi, karena jika kita menilik profesi lain, semisal seorang artis, dan pekerja di dunia hiburan lain, memiliki penghasilan yang mungkin bisa untuk membayar UKT mahasiswa sampai S3. Plus menjadi primadona di Indonesia. Kita juga bisa melihat bagaimana profesi dokter, pilot dan profesi ternama yang lain, yang sangat diimpikan oleh rata-rata mahasiswa di Indonesia, penghasilan mereka juga sangat besar, jauh diatas gaji guru, bahkan berlipat-lipat, dan dilipat lagi.

Ini sebuah ‘kriminalitas dan pelecehan’ terhadap dunia pendidikan, yang mana, guru yang kita dambakan untuk menggenjot pendidikan bangsa, dan sejatinya adalah orang tua kedua setelah ayah ibu kita. Guru lah yang menentukan masa depan seorang siswa, kedewasaan, dan intelektualnya. Bukankah ini sebuah lelucon jika guru hanya dihargai dengan ‘picisan’? 

Jikalau dokter yang mengobati, dan kita berterimakasih, dan jikalau seorang artis yang menghibur, dan kita primadonai, lantas sopankah jika ‘mereka’ (baca:pemerintah) hanya memberi uang ‘recehan’ kepada guru, yang memegang tampuk masa depan sebuah bangsa? 

Tulisan oleh Nadhif Fadhlan dari Yogyakarta.

Ingin tulisanmu tampil di sini? Kirim pada kami.

Info penting lainnya:


1 Response

  1. Avatar Samsul Hidayatullah says:

    Saudara, dunia pendidikan bukan hanya di sekolahan, universitas saja. Pendidik itu bukan hanya guru saja, banyak guru yang tidak melabeli dirinya sebagai guru. Bagaimana masa depan bisa ditentukan oleh guru? Coba kita pandang diri kita masing², kalau anda sendiri yg mungkin sebagai guru akan sedikit berat untuk menerima semua ini.Maksud anda guru yang mana? guru apa? apakah guru itu punya sifat tidak terima begini?. Bagaimana sebenarnya konstruksi pikiran anda?. Tolong jelaskan, atau silahkan pakai sudut pandang orang lain, dengan latar belakang yang berbeda, bukan dengan sudut pandang anda sendiri. Dan kalau pendapat anda mewakili nasib, berarti anda tlah melakukan klaim nasib orang lain.

Apa komentarmu?