Kisah Miftakhul Huda Kuliah di Universitas Gunma Dengan Beasiswa

Kisah Miftakhul Huda Kuliah di Universitas Gunma Dengan Beasiswa

Kisah Miftakhul Huda Kuliah di Universitas Gunma Dengan Beasiswa.

Berbeda dengan cerita kuliah di Universitas Tartu yang seakan masuk ke mesin waktu, kuliah di Universitas Gunma, Jepang, membuat mahasiswanya bak raja.

Berlebihan?

Rasanya tidak, jika telah membaca kisah Miftakhul Huda, lulusan SMA di Indonesia yang menerima beasiswa dari pemerintah Jepang, hingga meraih gelar doktor.

Bagaimana cara mendapat beasiswa pemerintah Jepang? Simak hasil wawancara Tim Editor KampusUNJ.com dengan Miftakhul Huda berikut:

 

1. Boleh perkenalkan diri dan pendidikanmu?

Nama saya Miftakhul Huda, bekerja sebagai peneliti di Institut Teknologi Tokyo. Saya telah menamatkan kuliah S1, S2, dan S3 saya di Universitas Gunma, Jepang. Penelitian saya berhubungan dengan nanoteknologi, nano partikel, katalis, dan gas alam.

Dasar pendidikan saya adalah elektronika, tetapi kemudian terjun ke dunia semikonduktor dan terakhir bergerak di bidang teknik kimia.

 

2. Kenapa memilih kuliah di Jepang?

Kondisi saat saya lulus SMA berbeda dengan sekarang. Dulu tidak ada beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk kuliah S1 di luar negeri. Sedikit pula negara asing yang memberikan beasiswa bagi siswa Indonesia saat itu.

Miftakhul Huda di laboratorium Jepang.

Miftakhul Huda di laboratorium Jepang.

Setahu saya hanya Jepang yang menyediakan beasiswa penuh bagi siswa lulusan Indonesia agar bisa kuliah di negaranya.

 

3. Bagaimana caramu memilih universitas di Jepang, sebelum memutuskan kuliah di Universitas Gunma?

Beasiswa yang saya terima saat itu adalah beasiswa D2 Monbusho, dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Ilmu pengetahuan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho).

Beasiswa Monbusho S1, D3, D2 hanya membolehkan penerimanya memilih bidang kuliah yang ingin ditekuni, sedangkan universitasnya, mereka yang menentukan sesuai hasil tesnya.

Ketentuannya berbeda untuk penerima beasiswa S1 Monbusho. Mereka bisa memilih dan menentukan universitas yang diinginkan, berdasarkan hasil seleksi masuk universitas. Namun, sebelum melakukan seleksi masuk, mereka akan mengikuti program belajar bahasa Jepang selama setahun, langsung di Jepang.

Sedangkan tempat kuliah saya, ditentukan oleh pemerintah Jepang. Alhamdulillah, saya mendapat Universitas Gunma, sekitar dua jam dari Tokyo. Banyak mahasiswa Indonesia juga yang lulus dari universitas tersebut.

 

4. Bagaimana cara mendapatkan beasiswa Monbusho?

Untuk mendapatkan beasiswa Monbusho, kita harus mendaftarkan diri melalui Kedutaan Jepang atau Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang.

Jumlah pendaftar beasiswa Monbusho tiap tahun mencapai ribuan peserta dari seluruh Indonesia, tetapi yang diterima biasanya hanya puluhan saja.

Langkah pendaftaran yang pertama adalah pemeriksaan dokumen. Mereka yang lolos seleksi dokumen diharuskan mengikuti ujian tertulis. Saat itu, saya mengikuti ujian tertulis di Universitas Indonesia, Jakarta. Alhamdulillah, saya lolos ujian tertulis.

Kemudian saya mengikuti ujian wawancara di Kedutaan Jepang. Alhamdulillah, lolos juga dan berhak mengikuti seleksi terakhir, yaitu tes kesehatan untuk memastikan kesiapan berangkat kuliah ke Jepang.

Miftakhul Huda sempat bertemu dan memberikan baju batik kepada pencipta karakter Hello Kitty.

Miftakhul Huda sempat bertemu dan memberikan baju batik kepada pencipta karakter Hello Kitty.

 

5. Apakah tahap tersulit untuk mendapatkan beasiswa Monbusho?

Di antara semua proses mendapatkan beasiswa Monbusho, tahap paling sulit adalah ujian tertulisnya. Karena hanya sedikit yang lolos dari ribuan siswa yang mengikutinya.

 

6. Apakah beasiswa Monbusho mencakup biaya hidup di Jepang?

Iya. Beasiswa Monbusho bukan hanya membiayai seluruh biaya kuliah di Jepang, tetapi juga memberikan uang saku per bulan. Untuk tahun 2016, uang saku yang diberikan sebesar ¥117.000 atau sekitar Rp15.000.000 per bulan.

Selain itu, para peserta beasiswa juga diberikan tiket pesawat kelas ekonomi pulang-pergi dari Jakarta–Jepang.

Alhamdulillah, beasiswa Monbusho saat itu cukup untuk biaya hidup saya di Jepang. Walaupun begitu, saya tetap bekerja sampingan untuk menabung. Karena saya ingin gunakan tabungan tersebut untuk biaya kuliah selanjutnya nanti apabila saya tidak dapat beasiswa.

 

7. Bagaimana kondisi perkuliahan di Universitas Gunma?

Alhamdulillah, perkuliahan di Jepang sudah teroganisir dengan baik. Jadwal kuliah selama setahun sudah ditentukan sebelumnya. Para dosen datang tepat waktu. Mahasiswa juga asyik mengikuti kuliah, walau banyak juga mahasiswa yang suka tidur di dalam kelas.

Salah satu gedung Universitas Gunma di Jepang.

Salah satu gedung Universitas Gunma di Jepang.

Namun, mereka sangat serius saat mengerjakan tugas dan mengerjakan soal ujian. Dosen di Universitas Gunma, Jepang sangat mendukung mahasiswanya untuk menyelesaikan kuliahnya. Mereka bertindak sebagai pendorong bukan sebagai penghalang mahasiswanya untuk maju.

 

8. Apa tantangan terbesar selama kuliah di Universitas Gunma?

Pendidikan di Indonesia berbeda dengan pendidikan di Jepang.

Di Indonesia, siswa lebih banyak diharuskan menghafal rumus atau berbagai teori, sedangkan di Jepang, mahasiswanya dapat dengan mudah dalam menyampaikan apa yang dia rasakan atau dipikirkan. Mereka pintar dalam memahami materi kuliah yang disampaikan dosen, kemudian mengolahnya untuk dipahami dan disampaikan ke orang lain.

Mungkin itulah tantangan terbesar saya selama kuliah di Jepang. Bagaimana bersaing dengan mahasiswa Jepang, yang sedari SD hingga SMA telah menerima kualitas pendidikan lebih bagus daripada kualitas pendidikan di Indonesia.

Alhamdulillah, saya sedikit demi sedikit mulai bisa beradaptasi. Bahkan, sekarang, analisa menjadi salah satu kekuatan dan kesukaan saya.

 

9. Apa perbedaan tinggal di Indonesia dan di Jepang?

Kualitas kehidupan di Jepang sudah sangat tinggi.

Semua rakyatnya sudah terjamin pendidikan, kesehatan dan keamanannya.

Kalau sakit, kita bisa langsung ke klinik terdekat dengan biaya yang terjangkau dan kualitas tinggi. Jalan sendirian pada malam hari di Jepang juga aman. Walaupun gelap, tidak ada preman atau  orang yang berniat jahat.

Berdesak-desakan di kereta juga aman. Jika ada barang yang hilang di Jepang, Insya Allah bakal ketemu lagi. Semua orang Jepang memiliki sikap disiplin dan bekerja keras.

Namun, masyarakat Jepang cenderung individualis. Mereka juga sulit menyapa ataupun berbicara dengan orang lain, sehingga banyak yang merasa sendirian di tengah keramaian.

Pajak di Jepang sangat tinggi. Kita harus bayar pajak dan asuransi kesehatan yang lumayan tinggi tiap bulan.

 

10. Adakah tips bagi mahasiswa Indonesia yang ingin kuliah di Jepang?

Sekarang sudah banyak beasiswa yang ditawarkan pemerintah Indonesia, sehingga manfaatkanlah hal tersebut.

Pilih universitas kelas dunia yang sesuai bidangmu.

Kuliah keluar negeri tujuannya jangan hanya untuk mencari ilmu saja. Usahakan juga untuk saling mengenal dan bertukar budaya dengan masyarakat dari negara lain. Dengan begitu, kita bisa lebih memahami diri sendiri sebagai bagian dari masyarakat dunia, yang harus saling rukun dan bertenggang rasa.

Sebelum berangkat kuliah di luar negeri, belajarlah untuk bisa memasak masakan tradisional dan seni tradisional Indonesia. Karena akan ada banyak kesempatan untuk saling bertukar budaya di negara setempat. Kesempatan itulah yang dapat menambah jaringan pertemanan dan wawasan luas.

Untuk informasi kuliah di Jepang yang lebih lengkap, silakan kunjungi studyjapan.go.jp.

Semoga sukses.

 

Mau kuliah di luar negeri? Jika iya, daftarkan email kamu untuk mendapat informasi gratis kuliah di luar negeri lainnya:

Daftarkan email di bawah ini:

Info penting lainnya:


Apa komentarmu?