Hidup Sehat & Hemat Ala Anak Kos

Semakin bertambahnya umur seseorang, maka semakin tinggi pula jenjang pendidikan yang ia tempuh. Seperti setelah menamatkan masa Sekolah Menengah Atas (SMA), lazim diantaranya beberapa orang memilih untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan. Banyak juga yang memutuskan untuk kuliah ditempat asalnya, namun tak sedikit pula yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar kota bahkan hingga ke luar negeri. Keputusan ini diyakini sebagian besar orang adalah upaya agar dapat menjadi seseorang yang lebih mandiri. Hal ini dikarenakan apabila seseorang sudah memutuskan untuk hidup mandiri, pastilah semua kegiatan yang biasanya dapat dibantu oleh keluarga terutama ibu, menjadi tanggung jawab pribadi karena hidup sendiri di perantauan.

Namun, bukanlah hal yang mudah menjadi seseorang yang hidup di perantauan. Seperti yang penulis rasakan sendiri. Banyak kendala yang terjadi, dan bahkan kejadian terburuk yang tidak terbayangkan pun dapat terjadi. Hal tersebut merupakan lika liku yang lazim dialami oleh sebagian besar para perantau yang merupakan pemula. Di usia yang masih terbilang remaja dan cenderung labil, seseorang pasti sangat mudah terbawa suasana baru dan bisa saja merasa asing di suasana baru. 

Selain itu karena telah memilih untuk hidup sendiri di kota orang, banyak diantara mereka yang menjadi tidak peduli dengan diri sendiri, seperti contohnya meniadakan sarapan dan memilih untuk makan di siang hari saja dengan mengatas namakan hemat. Hal tersebut tidak dapat dibenarkan karena dapat mengganggu kesehatan. Jika tidak sarapan, dikhawatirkan pula mahasiswa tidak fokus saat belajar di kelas karena harus menahan lapar. Seperti yang dijelaskan Dokter Karin Wiradarma dari KlikDokter  “Dengan rutin sarapan memberikan banyak manfaat untuk tubuh. Mulai dari memberi nutrisi untuk tubuh, meningkatkan metabolisme biar menjadi energi supaya nggak mudah lapar dan lemas, dan tentunya bisa menjauhkan dari berbagai penyakit, seperti maag, jantung, dan diabetes”. Selain alasan kesehatan, saat mengirim uang, setiap orangtua pasti mempertimbangkan kebutuhan anak. Kebutuhan anak yang sering jadi pertimbangan orang tua adalah makan. Dengan demikian, tidak bisa dibenarkam tindakam tidak sarapan itu dilakukam untuk menghemat. 

Banyak upaya penghematan yang dapat dilakukan oleh anak kost itu sendiri. Beberapa langkah penghematan yang dapat dilakukan mahasiswa diantaranya adalah menghindari memegang uang tunai melebihi kebutuhan harian, memasak makanan sendiri, memilih makanan yang murah yang biasanya dijual dengan harga yang pas untuk kantong mahasiswa, memilih bahan makanan yang tahan disimpan, mengurangi jajan dan nongkrong di kafe, tidak sering menonton di bioskop dan banyak hal lainnya. Langkah penghematan dengan menghindari berbagai kegiatan tersebut juga dapat direalisasikan dengan langsung pulang ke kost-an apabila sudah tidak ada kegiatan lagi di kampus, atau menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi. Adapun dengan sering membawa air mineral sendiri dari rumah, dapat membantu mengurangi pengeluaran untuk membeli air mineral dalam kemasan dan juga bisa membantu kita agar bijak plastik.

Cara lain yang dapat dilakukan misalnya, apabila uang telah dikirim oleh orangtua dapat ditarik seperlunya kemudian usahakan bisa membeli bahan-bahan makanan yang kira-kira dapat dimasak. Bahan makanan yang paling utama adalah beras, karena beras merupakan makanan pokok yang wajib bagi masyarakat Indonesia tentunya. Selain itu, beras juga dapat langsung dibeli dalam jumlah yang banyak misalnya 5 kg atau 10 kg, kemudian beras tersebut akan habis dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, pengeluaran untuk membeli bahan makanan pokok telah berkurang karena dengan membeli beras skala banyak akan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama juga.

Tidak mungkin seseorang bisa bertahan hanya dengan memakan nasi saja, tentu semua orang memakan nasi dengan didampingi lauk pauk. Untuk anak kost, lauk yang murah dan bergizi dapat ditemukan pada telur. Telur merupakan bahan makanan yang memiliki kandungan gizi yang lengkap salah satu sumber protein yang baik. Menurut WHO, nilai gizi telur jika diukur dengan range 0-100 didapatkan hasil 100 atau nilai sempurna karena telur memiliki kandungan gizi yang lengkap dilihat dari gizi makro maupun gizi mikronya. Telur juga merupakan bahan makanan yang cenderung murah. Di Medan sendiri harga telur bervariasi dimulai dari Rp 1.100,-  hingga Rp 1.750,-. Dengan memilih telur yang seharga Rp 1.200/butir, mereka yang merupakan anak kost sudah bisa mendapatkan telur dengan ukuran yang sedang. Ukuran tersebut merupakan ukuran yang pas juga dengan harga yang terjangkau. Telur dapat diolah menjadi berbagai macam lauk yang enak dipadukan dengan nasi tentunya.

Bahan makanan lain yang dapat menjadi alternatif adalah teri medan. Teri dapat dipilih karena dapat bertahan pada suhu ruangan atau tanpa adanya kulkas. Selain mudah ditemukan, teri juga merupakan bahan makanan yang terjagkau harganya. Kurang lebih harga teri per onsnya adalah Rp 8.000,- hingga Rp 10.000,- saja. Dengan membeli teri sebanyak 1 ons saja, teri sudah lebih dari cukup untuk ukuran anak kost yang biasanya hidup sendiri. Agar teri dapat bertahan lama, ada baiknya setelah membelinya teri dicuci lalu di goreng kering dan disimpan di tempat yang kedap udara. Dengan demikian, teri akan bertahan setidaknya 3 minggu hingga sebulan lamanya.

Adapun jika sekiranya para anak kost bosan dengan telur atau teri, alternatif bahan makanan lainnya yang dapat dipilih adalah tempe. Dengan harga Rp 2000,- per tempenya, tempe sudah dapat diolah dengan tepung bumbu serbaguna maupun tepung beras biasa menjadi tempe goreng yang enak. Namun, kelemahannya tempe hanya bertahan di suhu ruangan paling lama dua hari saja. Karena tempe merupakan bahan makanan yang dibuat secara alami dengan bantuan jamur sehingga tempe tidak dapat bertahan lama.

Jangan lupakan juga sayuran. Biasanya di usia remaja seperti anak kuliahan, malas makan sayur merupakan masalah yang paling sering dialami. Akibatnya, tubuh menjadi kekurangan serat dan menyebabkan masalah pencernaan. Untuk menghindari hal tersebut, ada baiknya para anak kost membeli jenis-jenis sayur yang kira-kira cukup untuk sekali atau dua kali masak saja, namun bisa bertahan pada suhu ruangan semalaman. Contoh sayur tersebut diantaranya: wortel, kacang panjang, kentang dan terong. Sayuran tersebut sebaiknya disimpan ditempat kedap udara atau dimasukkan kedalam plastik dan diikat dengan kuat. Upaya ini dilakukan agar sayur bertahan pada suhu ruangan.

Untuk sarapan, mereka yang merupakan anak kost dapat menyediakan roti atau biskuit dan juga sekotak teh celup, jangan lupakan gulanya juga. Bahan tersebut dapat membantu mengganjal perut para anak kost yang notabene malas masak di pagi hari, namun tetap harus mengisi perut. Roti atau biskuit biasanya dijual dengan harga terjangkau yaitu sekitar Rp 5.000,- hingga Rp 10.000,- saja. Dengan demikian, sarapan di pagi hari sudah pasti tidak akan terlewatkan. 

Mereka yang merupakan anak kost pastilah merasa bosan apabila setiap hari makan dengan bahan makanan yang telah penulis sebutkan di atas. Membeli lauk masak atau makan diluar juga dapat menjadi pilihan. Namun, sebaiknya sesuaikan budget dan pilihlah rumah makan yang cocok dengan kantong para anak kost. Di lingkungan sekitar kampus pastilah terdapat banyak rumah makan yang harganya cocok dengan keuangan para anak kost. Hal tersebut dapat menjadi pilihan apabila sekiranya bosan dengan lauk yang itu-itu saja. 

Intinya, hidup mandiri dan upaya penghematan bukanlah alasan bagi seseorang untuk melupakan asupan gizi bagi tubuhnya. Usahakan untuk tidak hanya makan agar kenyang, tetapi juga lebih memerhatikan nutrisi yang terdapat pada makanan tersebut. Karena apabila anak kost sakit di perantauan tentulah akan merepotkan diri sendiri dan mengganggu proses belajar di bangku perkuliahan. Mari terapkan hidup hemat yang bergizi dan berkualitas untuk hidup sehat semua anak kost kedepannya.

Tulisan oleh Rayhan Layli dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Ingin tulisanmu tampil di sini? Kirim pada kami.

Info penting lainnya:


Apa komentarmu?